Sharing Happiness at SDN 7 Sibetan

 24th of February 2018


Bali Caring Community (BCC) team visited SDN 7 Sibetan, an elementary school with high poverty rates. This school is also filled with evacuees of Mount Agung's eruption. Our team held Berbagi Ceria or Sharing Happiness event for them, including story telling, playing games, medical check up, singing, dancing, watching film, learning how to make artwork, competition, and gift-giving.

For further information about BCC and to donate, please kindly visit http://balicaringcommunity.org/

Happy New Year 2018

via Instagram
 
2017 was filled with blessings, joys, and many first-time experiences. After i was finally graduated, i experienced my first real job in a big city, first time i hiked an ancient volcano without camping, first time i moved out from big city to my dream place Bali 2 days before my birthday, first time i saw my favorite band in concert in abroad by myself (Foo Fighters concert), first time i experienced an earthquake, first time i witnessed mountain eruption right in front me, and first time i celebrated Christmas without my family. 

Thankies so mucho to those who gave me good vibes and good peeps i've met along my journeys in 2017! Cheers to a colorful year ahead!

Kunjungan ke 5 posko pengungsian di Klungkung dan Karangasem

2 Desember 2017
Erupsi Gunung Agung yang terlihat dari salah satu posko pengungsian.


Siapa yang tak kenal Bali. Pulau dengan berjuta pesona dari pariwisata alam, kultur, penghuninya, hingga wisata malamnya. Kini berbagai media massa dari berbagai belahan dunia memberitakan Bali terkait kondisi vulkanik terkini dari Gunung Agung, gunung yang terletak di timur Pulau Dewata ini. Begitu juga kabar mengenai himbauan dari lembaga resmi pemerintah yakni BMPG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengenai status vulkanik Gunung Agung untuk menetapkan zona merah dan mengungsikan pendududuk di zona merah. Pikir saya, jikalau Gunung Agung meletus dan banyak penduduk yang diungsikan, ah pasti akan ada banyak bantuan bagi mereka dari berbagai penjuru dunia. Namun fakta yang saya dan tim Bali Caring Community (BCC) dapatkan di pengungsan di Klungkung dan Karangasem cukup mengejutkan. 

Beberapa pengungsi mengaku bahwa banyak bantuaan mereka dapatkan pada masa pra meletusnya Gunung Agung. Sedangkan pada masa Gunung Agung erupsi, tidak banyak sumbangan logistik mereka terima. Selain itu, logistik di lima posko tersebut hanya menyediakan air mineral, beras dan mie instan. Jika pengungsi ingin makan lauk pauk dan sayur, mereka harus membeli di pasar atau warung makan di sekitar lokasi pengungsian. Sedangkan kini, banyak diantara mereka yang tidak bekerja dan berpenghasilan (sebagian besar penduduk tersebut biasanya berladang, bertani, beternak).



Dapur di posko pengungsian.
Pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak dan manula di posko-posko pengungsian.

Kondisi anak-anak di posko pengungsian Desa Kukuh Blambang banyak yang menderita demam. Meskipun demikian, kecerian anak-anak ini tetap terlihat dari senyum dan canda mereka di posko pengungsian. Banyak di antara mereka yang tidak mengeluh mengenai turunnya abu vulkanik, terhenti belajar di sekolah, terpaksa meninggalkan rumah, terpaksa meninggalkan hewan-hewan peliharaan mereka, dan terpaksa tidur di posko pengsungsian.

Eka yang mendongengkan anak-anak di posko-posko pengungsian.
Ada satu hal yang terus mereka bicarakan pada saya. “Bolehkan kami mendapat buku cerita?”, “kak, aku mau buku  juga”, “aku juga kak, aku suka membaca”. Anak-nak manis ini mengharapkan tersedianya buku-buku bacaan di posko pengungsian. Memang menurut sebagian orang, buku-buku bacaan yang anak-anak ini inginkan tidak termasuk kebutuhan mendesak dibandingkan kebutuhan pangan. Namun saya rasa ini hal penting bagi pengetahuan mereka.


Teruntuk kalian yang ingin memberikan donasi berupa uang, buku anak-anak, kebutuhan pangan, atau apapun, silahkan kunjungi linimasa @balicaringcommunity dan http://balicaringcommunity.org/ untuk info-info pengungsian di Bali.

Kegembiraan anak-anak di posko pengungsian saat mendengarkan dongeng dari Kak Eka.
Anak-anak di posko pengungsian yang suka membaca.


Pengungsi dan Hewan Peliharaan
Salah satu hal yang menyedihkan dari peristiwa alam gunung meletus adalah para pengungsi tidak diperbolehkan membawa hewan peliharaan ke posko pengungsian. Dengan berat hati mereka meninggalkan hewan-hewan ternak dan peliharaan mereka di sekitar rumah mereka yang masuk dalam zona bahaya. Mengenai erupsi Gunung Agung, zona bahayanya yakni 10 km dari gunung. Sebelum Gunung Agung erupsi, banyak pengungsi yang kembali ke rumah-rumah mereka untuk memberi makan ternak dan hewan peliharaan mereka. Begitu cerita dari beberapa pengungsi yang saya temui.

 
Meskipun ada larangan membawa hewan, saya mendapati kehadiran hewan-hewan seperti anjing-anjing berukuran besar, monyet, dan burung-burung milik pengungsi di Posko Banjar Kreket, Karang Asem. "Ada anjing yang sudah ditinggal di rumah, tiba-tiba datang sendiri mendatangi pemiliknya di posko ini", terang salah satu pengungsi bernama Pak Wayan. Selain itu, pengungsi bernama Pak Kadek bercerita bahwa ia sudah meninggalkan anjing tercintanya di rumah.  Penyesalan dan kesedihannya selama beberapa hari di pengungsian, membuatnya nekad kembali ke rumahnya yang berlokasi 9 km dari Gunung Agung untuk mengangkut anjing peliharaannya tersebut.

Wayan dan anjing kecilnya yang beruntung. Hewan-hewan berukuran besar, termasuk induk anak anjing ini tidak boleh dibawa ke posko pengsungsian sehingga induk anjing ini ditinggal di rumah Wayan yang berlokasi 8 km dari kawah Gunung Agung. Kini induk anjing tersebut telah wafat terkena abu vulkanik dan kelaparan.
Untunglah meskipun ada larangan membawa hewan peliharaan ke posko pengungsi, para polisi yang berpatroli di posko memaklumi naluri manusia yang sulit berpisah dengan hewan-hewan peliharannya. Hewan-hewan itu pun bisa bergabung kembali dengan pemiliknya di posko ini. Walaupun beberapa pengungsi beragama Islam, mereka tampak tidak terlihat keberatan dengan kehadiran anjing-anjing peliharaan milik pengungsi lain.  


Sayonara Jakarta ! Hello, paradise island, Bali.

8 Desember 2017
"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat di kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin…", kata Gumira Ajidarma dalam Menjadi Tua di Jakarta. 

Persis menggambarkan keadaan mengerikan saya di ibukota. Sekali lagi, gambaran yang saya rasakan (jadi belum tentu semua orang merasakan hal yang sama). Jenuh akan rutinitas di kantor, jenuh akan kemacetan, jenuh akan asap-asap hitam yang keluar dari kendaraan, jenuh akan kebisingan, menjadi segelintir alasan saya untuk mencari peluang kehidupan yang ‘’layak’’ bagi jiwa saya di daerah, bukan di kota.  Walaupun saya tahu ada sebagian besar orang yang menempati kota besar ini dapat melewati hari-hari mereka dengan keadaan yang digambarkan oleh Ajidarma serta merasa tidak keberatan. Walaupun saya berkeyakinan bahwa dalam setiap perjalanan dan situasi yang entah itu baik atau buruk, pasti ada segelintir orang baik hati dan menjadi pelipur lara. Tapi ah sudahlah, kali ini saya sudah tak ada gairah untuk menjalani rutinitas di perkotaan.


Hijrah ke Bali
Semakin bersemangat untuk melangkahkan kaki dari ibukota menuju pulau idaman saya, Bali kala mendapat kabar bahwa sebuah perusahaan di Jimbaran merekrut saya. Sebuah kamar beukuran 3x3m di bangunan kosan berlantai tiga yang berdiri di atas bukit menjadi pilihan tempat yang saya sebut “sarang” atau “rumah”. Bangunan beratap fantastis, begitu saya menyebutkan. Atap yang menjadi tempat saya berpijak untuk menikmati warna-warni senja, megahnya Gunung Agung, pahatan seni patung Garuda Wisnu Kencana di atas bukit seberang, pantai Jimbaran, dan malam bertabur bintang.

Pemandangan di sore hari dari atap fantastis kosan yang saya tempati.
Jendela berukuran cukup besar yang terpasang di kamar menghadap ke pepohonan dan kebun tempat sapi-sapi warga bersantap dan bersantai ria sambil mengalunkan suara lonceng di leher-leher mereka. Dari jendela yang terbuka itu pula sering terdengar alunan musik khas Bali, suara kokok ayam dan kicauan merdu burung-burung. Inilah alarm saya tiap pagi.

Senja dari jendela kosan
Perjalanan menuju kantor dengan melewati sawah-sawah, kebun, hutan, keramahan warga, dan tidak tejebak kemacetan (ada kemacetan di sekitar, namun saya tidak terjebak) serasa memberi saya energi untuk beraktifitasdi pagi hari. Kaca-kaca jendela yang mengelillingi kantor menyuguhkan pemandangan berupa hutan kecil, pura, dan kebun-kebun menjadi penyegar mata saat lelah dan kantuk. Kadang, tingkah laku beragam jenis wisatawan yang berfoto bersama bangkai pesawat yang terpajang di tengah permukiman penduduk bisa saya saksikan dari kaca jendela di ruangan saya. Kadang menghibur, kadang menjengkelkan. Tidak hanya wisatawan, aktifitas sekelompok burung bangau putih yang melintas di langit di jam-jam tertentu juga saya bisa saksikan tiap hari.

Bekerja dengan pikiran segar dan hati gembira, begitu saya mendeskripsikan waktu saya bekerja. Jam kerja yang dimulai pukul 10 pagi, kadang saya mulai pukul 9 pagi. Cahaya kuning keemasan di langit dan warna merah muda mulai mewarnai awan-awan yang bergerak perlahan menjadi tanda bahwa sore hari telah menjelang. Di bawah cahaya senja, motor yang saya naiki melaju menuju sarang saya atau ke suatu tempat untuk bertemu kawan.
Pemandangan di area kosan
Bersantai di kamar.

Kekonyolan di hari kedua tiba di Bali
Bersama seorang sobat bernama Chatar, kami piknik di sebuah pantai sepi. Setelah cacing-cacing di perut kenyang, kami menggelar kain di tepi pantai sebagai alas tidur siang. Nikmat sekali bersantai di bawah sinar mentari sambil mendengarkan deburan ombak dan lagu-lagu folk Indonesia dan lagu-lagu bosa nova melalui telepon genggam saya.

Selang satu jam, saat kami mulai terlelap, ada teriakan "awas ombak besar" disertai air laut yang mengguyur badan kami. Panik. 2 telepon genggam kami, cemilan, kain, dan sandal-sandal kami hanyut terbawa ombak. Sekali lagi… hanyut. Badan lemas sambil menghela nafas dalam di pinggir pantai sambil berharap ada mukzizat benda-benda itu kembali ke daratan. Kami cukup beruntung saat itu,  ada dua wisatawan yang membantu kami meraih sandal-sendal kami yang terus terombang-ambing bersama ombak. Tak terbayang bila kami pulang tanpa sandal sedangkan jalanan beraspal.. berapa banyak nanah dan darah yang keluar dari kaki kami :(

Pantai Melasti.

Saya ingin ucapkan terima kasih pada teman-teman pelipur lara di perusaaan tempat saya bekerja dahulu :
  • Karina a.k.a Tuyul
  • Bunda Debora Istri Yasirun
  • Nadjusca yang sekarang sudah hengkang juga
  • Kak Nadia, juragan makanan
  • Kak Rika, ibu peri + juragan makanan
  • Nabila, gadis Bekasi tergemash
  • Latif a.k.a Bedul, temen diskusi
  • Pak Agus, karyawan termuda
  • Boncabeteam, Mickey, Kak Valery, dan tim pemutaran layar tancep film horror.
serta terima kasih saya ucapkan pada Chatar yang memberikan tempat bernaung selama kurang lebih sebulan. 

Oh by myself trip and Foo Fighters live in Singapore 2017

3 Oktober 2017


Masih teringat di benak saya pada tahun 2013 silam, website resmi Foo Fighters mengumumkan bahwa grup musik yang karya-karyanya saya nikmati sejak duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) ini akan tur ke Singapura. Kala itu uang saku yang pas-pasan dan penghasilan yang tak seberapa mengurungkan niat saya untuk menyaksikan aksi panggung mereka di negara tetangga. Saya mengalah dan menuliskan "konser Foo Fighters" dalam bucketlist saya. Sayangnya, konser mereka di Singapura dibatalkan beberapa hari sebelum hari H karena Dave Grohl sang vokalis sekaligus pentolan grup sedang sakit tenggorokan. 

Menunggu mereka tampil di Indonesia? Ah mustahil, pikir saya. Faktor keamanan dan sound system yang masih terbilang tak elok menjadi beberapa alasan mereka dan beberapa band besar dunia enggan tampil di Indonesia. Maka dari itu, melihat pengumaman Foo Fighters dari linimasa di awal tahun 2017 bahwa mereka akan tur ke Singapura, membuat saya bersorak-sorai gembira. 

Penantian setelah bertahun-tahun lamanya terealisasikan pada bulan Agustus tahun ini. Tepatnya tanggal 27 Agustus 2017 di National Stadium Singapura. Rencana dari beberapa bulan lalu bersama dua teman untuk menyaksikan konser besama gagal. Saya berangkat sendiri ke Singapura, berwisata sendiri, dan menyaksikan konser tanpa mereka. Apapun yang terjadi, saya berpegang teguh prinsip “I won’t rely on others” dan saya meyakini “in good or bad times, I will meet such a kind-hearted person along the way”.


Kunjungan saya ke negara ini hanya demi hanya demi menyaksikan band favorit saya tampil. Tak pernah terbesit keinginan untuk  untuk berwisata di negara ini. Meskipun beberapa kali teman-teman saya mengajak saya berlibur kesana dengan alasan "murah kok berlibur ke Singapura jika direncakan jauh-jauh hari", “bersih banget negara ini". Namun saya terus menolak ajakan mereka karena menurut saya semua pariwisata yang ada di Singapura bisa saya dapati di negeri sendiri. 


Arab Street
Tiga hari saya berada di Singapura, sedangkan konser berlangsung hanya beberapa jam di salah satu tanggal. Maka saya pun beriwisata terlebih dahulu untuk mengisi waktu luang. Tak disangka, perjalanan ini lah yang mengubah pandangan saya terhadap negara berteknologi tinggi yang enggan saya kunjungi ini. 

Dimulai dari tanggal 25 Agustus 2017 pagi menuju hostel menaiki bus umum, saya dikejutkan akan pemandangan jalanan yang bersih, tertata indah, dan bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan.  


Menaiki bus umum berikutnya, saya tidak memiliki uang receh sedangkan di dekat pintu masuk tertulis bahwa sistem pembayaran tidak menyediakan kembalian. Mungkin karena iba melihat saya yang terus mencari uang receh di dompet, seorang wanita tua lokal datang pada saya mengatakan “let me pay for you. It’s okay”, sambil terus tersenyum. Oh malaikat! :) 


Selama di sana, saya tidak menggunakan SIM card lokal karena merasa kurang membutuhkannya dan juga untuk penghematan. Hehe. Maka, saya selalu membawa peta dan kamera kemanapun, serta bertanya warga lokal. 
 




Saat berjalan-jalan di taman tanpa tujuan, saya menemukan tangga eskalator yang membawa saya menuju puncak bukit. Saya terkejut ketika nuansa seperti Kebun Raya Bogor tersuguhkan. Bangunan berarsitektur Belanda, salah satunya yakni istana tempat tinggal William Daendels berdiri di sekitar bukit hijau, makam-makam tua penduduk Belanda terpampang di tembok, tanaman-tanaman khas Asia tumbuh di sekitar. Walaupun koleksi tempat ini tak serindang Kebun Raya Bogor, namun tempat ini lebih tertata, lebih bersih, ada peninggalan arkeologis, artefak, serta makam keramat. Tempat bersejarah ini psepi pengunjung dan gratis.


Singapore National Museum
Selain kebersihan dan teknologinya, saya terpesona akan bangunan-bangunan tua di negara ini. Semua bangunan tua nan bersejarah yang saya lihat dikelola dan dilestarikan dengan baik. Bukti bahwa masayarakat Singapura termasuk bangsa yang besar dengan ciri mampu menghargai sejarahnya.

Peranakan Museum
Armenia Street




Untuk perjalanan kali ini, saya ucapkan terima kasih kepada:
- @liagatha atas waktunya mendengarkan beberapa kepanikan saya dalam melakukan perjalanan saya sebatang kara di negara tetangga untuk nonton salah satu konser impian. (ini pertama kalinya saya nonton konser hingga ke pulau seberang dan seorang diri). Dalam kesibukannya bekerja, Liak terus memberikan info2 pada saya walaupun turut panik dan terus menghujat saya tiada henti. πŸ’‹

- kepada @gerigareri , pemuda karang taruna asal Garut yang mau mencari saya berkeliling stasiun MRT Lavender jam 2 pagi di saat telepon selulernya kehabisan batrai dan telepon seluler saya tak berfungsi, sehingga saya bisa nebeng dia dan kawannya ke bandara

- kepada dua majikan saya di kantor yang mudah mengizinkan saya untuk mengambil day off dengan alasan "saya sudah terlanjur beli tiket konser band favorit saya dari beberapa bulan lalu". Salah satu majikan saya yang ternyata mantan rocker semasa kuliah ini malah berkata "tak masalah. Lagipula kamu izin ke saya beberapa hari sebelum pergi dan lagipula kamu tidak bisa sering menonton band favoritmu."
  
 - Memed dan rombongan atas kemurahan hatinya.



Camping di Herman Lantang Camp (HCL)

4 Juli 2017

Akhir pekan menjelang Hari Raya Lebaran tahun ini, saya dan teman-teman dari Mapala UI dan Mapala IPB menemani Opa Herman dan Oma Joyce sambil camping bersama di  Herman Lantang Camp (HLC). Secara sukarela kami menjadi staf di camping ground milik mereka. 

Camping ground yang terletak di dekat Curug Nangka, Bogor ini tidak hanya menawarkan wisata glamping (glamorous camping), istilah untuk camping mewah yangmana peserta camping tidak perlu repot memasak, membangun tenda, mencuci peralatan masak, dsb.



Dengan kehadiran pasangan manis ini yakni Oma Joyce dan Opa Herman yang juga tinggal di camping ground tersebut, kami bisa belajar banyak hal. Opa Herman yang dikenal sebagai the living legend of pencinta alam di Indonesia dan sobat dari seorang aktifis tahun 1968 bernama Soe Hok Gie, senang bercerita tentang kisah-kisah nostalgia semasa mudanya serta berbagi pengetahuan. Di antaranya,cara membuat api unggun yang tetap menyala meskipun hujan turun, cara memilih buah yang matang, nasihat perihal asmara, membuat minuman super nikmat nan berkhasiat yang resepnya beliau ciptakan sendiri,  memberi clue tempat-tempat yang masih jarang terjamah manusia, memberi pelajaran tentang tanaman-tanaman, dan pelajaran bahasa Belanda. Kehadiran pria yang kini berusia 77 tahun yang didampingi oleh istrinya, yakni Oma Joyce yang begitu ramah, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang bermalam di HLC. 

Surat dari Soe Hok Gie yang ditulis tahun 1960an.



"Eh Titus, gue juga punya kacamata kayak lo", "tolong ambilin kacamata gue dong", "ayo kita foto bareng, nanti gue kirim fotonya ke Yayu, dosen lo", "Eh bentar, gigi palsu gue mana nih?" , "Gigi gue tinggal satu, malu gue kalo foto keliatan gigi tinggal satu", "gigi palsu gue kayaknya jatoh di taman, tolong cariin dong.", "fotoin candid dong", 
"kita pura-pura lagi liat burung di pohon sana dong", 
dan sederet perintahnya yang sangat menghibur :)

#weekendberfaedah #elderlycaregiver #talkshow #kuliahsambilcamping #campingsambilkuliah 
BBQ  sambl menatap langit bertabur bintang. 

Villa butuh hutan, tapi hutan tidak butuh villa

10 Mei 2017

Warga Jakarta yang penat akan hiruk pikuk kota dan polusi berbondong-bondong ke kawasan Puncak, Bogor untuk menikmati udara segar serta menyewa villa di sana.  Namun, apa sih yang menyebabkan daerah Puncak bisa menarik minat para pengunjung? Pemandangan alam dan hawa dingin dataran tingginya, bukan? yang warga Jakarta tak bisa dapatkan di kota Jakarta. Nah, sayangnya pemandangan alam dataran tinggi berupa hamparan hutan itu mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Penyebabnya karena semakin banyak pengunjung,  maka semakin banyak pula hutan yang dialihfungsikan sebagai lokasi pembangunan villa dan tempat hiburan.








Kegiatan Kelas Hutan yang diselenggarakan oleh Forest Watch Indonesia mengajak para mahasiswa dan khalayak ramai untuk lebih memahami kondisi hutan-hutan di kawasan Puncak, Bogor serta mengenal masyarakat lokal lebih dekat. 


Kampung Cibulao dari kejauhan
 
Berlokasi di kaki Gunung Pangrango dan Gunung Salak, Kampung Cibulao menjadi lokasi kami menginap dan berdiskusi dengan warga lokal. Kampung ini berbatasan langsung dengan hamparan kebun teh dan hutan-hutan di kawasan Puncak yang masih terbilang asri. Namun jika hutan sekitar disusuri hingga di ketinggian 1.600-an mdpl, terdapat beberapa area kritis akibat longsor dan lahan hutan yang dibabat habis lalu dialihfungsikan sebagai kebun sayur. 

Padahal selain fungsinya sebagai lahan resapan air hujan, hutan-hutan di sekitar desa tersebut merupakan habitat berbagai burung dan tanaman endemik Pulau Jawa. Meskipun mayoritas warga Kampung Cibulao sudah sadar akan pentingnya menjaga ekosistem hutan dengan tidak melakukan penebangan liar maupun perburuan liar, namun masih ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang terus mengusik keseimbangan ekosistem di daerah ini. 

Hutan Atas, begitu warga lokal menyebutnya. 
Kebun sayur di ketinggian 1600 mdpl.
Pemandangan kebun teh dari kebun kopi milik warga.
Warga kampung Cibulao sudah banyak yang sadar betapa pentingnya merawat hutan dengan tidak menjadi penebang liar, tidak memburu hewan di hutan, melakukan kegiatan patroli hutan secara berkala tanpa dibayar, menanam bibit pohon di area hutan yang sudah gundul dan bekas longsor. Namun usaha tersebut belum mendapat dukungan dari warga desa dan kampung lainnya. Terbukti dari adanya beberapa area di hutan yang dibabat habis lalu dijadikan kebun sayur oleh warga dari desa dan kampung lain. Ditambah, kurangnya usaha dari pemerintah dalam pelestarian hutan di kawasan ini dengan terus memberikan izin pembangunan villa dan tempat wisata di kawasan Puncak, Bogor.  Warga pun meminta kami para peserta yang ikut dalam Kelas Hutan untuk membantu mereka dalam pelestarian hutan Puncak dengan berbagai cara. Diantaranya melalui media sosial yang memviralkan kondisi hutan Puncak yang semakin terdegradasi.