Thursday, March 2, 2017

Graduation!

21 Februari 2017

2
Setelah terdampar, jatuh, berdarah-darah, hingga usus terburai dalam melewati hari-hari di jurusan ini, akhirnya saya menuju tahap "survived" 1 (baca: kelulusan) pada tanggal 4 Februari lalu. Puji syukur, alhamdullilah. 




Thankies so mucho for the supports, greetings, gifts, letters, calls, flowers, a sachet of mecin, an epic celebration on a rafting boat, for those who came to see me, for those who tried to meet me but couldn't find me on my graduation day, and for those who spent their times to help me through the bloody days in college with a lot of laughs and a bunch of fun. It was a wonderful feeling on my special day when i looked at the crowd and i saw some of them, yelled my name, and hugged me. i'm beyond blessed and glad to be surrounded by these lovely peeps. ❤❤
sorry i couldnt take all the gifts that ive got

black. marroon. and gold.
an epic celebration

"kok kamu malah jalan2? emang kuliah udah kelar?"  "ngapain sih pulang subuh dari kampus?" , "badanmu kenapa kayak abis berantem, lecet2 gitu". "tuhkan susah jalan gara2 abis naik gunung", "udah lah gak usah ikutan kegiatan mapala", "kuliah lo kapan kelar?". itulah segelintir nyinyiran dari ibu saya yang selalu khawatir akan gadis perempuannya. Selain beliau, anggota keluarga saya yang lain pun tidak ada yang percaya bahwa saya mengikuti kegiatan Mapala. Mapala atau Mahasiswa Pencinta Alam, sebuah organisasi yang membutuhkan anggota yang aktif bergerak, tangguh, pemberani. Bertolak belakang dengan kepribadian saya yang sering sakit, loyo, dan sering takut akan hal mistismenurut anggota keluarga. Maka itulah mereka sulit percaya. 

Walaupun sering kali tidak mengizinkan saya bergiat di kegiatan Mapala, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada ibu dan bapak atas segala dukungan dan nyinyirannya, serta bantuan sumbangan dana untuk segala kegiatan saya selama berkuliah dan kegiatan di luar kuliah. Tanpa bantuan kalian berdua, segala rencana saya untuk melakukan hal-hal yang ada dalam bucketlist saya semakin tertunda.

 Mecin dan Puttana.
Walaupun berdarah-darah dalam melewati di jurusan, namun berkat makhluk-makhluk ini  hari-hari saya di jurusan semakin mengasyikan. Ada makhluk-makhluk liar dan satu nabi yang tergabung dalam grup Mecin yang membuat saya tertawa setiap hari hingga sakit perut. Dari mulai perkataan-perkataan yang keluar dari congor-congor mereka, kelakuan liar mereka bak binatang, permainan menangkap laler, karaoke, dll.  Selama berkuliah, banya kata-kata baru yang kami ciptakan seperti 'msooo' (mampus), 'cruuu' (sux), 'yauh' (yeay),  'lel' (LOL), 'koceng' (kucing), 'dadak' (ayah), dan masih banyak  kata lainnya yang dapat kami masukan dalam leksikografi Kamus Bahasa Mecin. Walaupun tergabung dalam Mecin, namun ada 4 makhluk diantara kami yang berhasil meraih IP tertinggi di tingkat fakultas.  


Selanjutnya ada Puttana, gabungan beberapa perempuan tipikal "perempuan-perempuan Sastra Prancis" (kecuali saya seorang). Pandai, rajin, up to date mengenai hal-hal berbau make up serta lihai bersolek. Namun tiap pribadinya memilki sisi freak. Manusia-manusia yang selalu mendengarkan keluh kesah dan cerita-cerita saya mulai dari cerita yang penting hingga tak penting.   



Graduation a la Mapala UI: mengarungi danau Kenangan di UI seusai upacara wisuda. Walaupun kami sempat terkena banjir di perahu, kain saya basah hingga lutut, me-rescue toganya Firman yang terhempas angin, lalu bersama-sama bernyanyi OST Film Titanic: My Heart Will Go On.

Terima kasih kepada makhluk-makhluk penghuni sekretariat Mapala UI di Pusgiwa yang sering berlaku konyol, menghibur, dan kadang bercongor tidak seperti manusia terpelajar. Tempat ini merupakan salah satu tempat saya bernanung ketika malas kembali ke kosan atau rumah jika ada acara yang selesai pada tengah malam atau subuh. Setelah lulus pun, saya masih betah ke tempat ini untuk sekedar mendapatkan wifi, mengobrol, tertawa, bersinggah hingga mendapat gibah, mendapatkan materi, membahas perencanaan suatu kegiatan, dan berlatih sebelum melakukan suatu perjalanan..




Oiya, terima kasih juga kepada Puspus, anjing penjaga Pusgiwa yang sudah wafat. Berkat dirinya, impian saya untuk mempunyai anjing, ditemani anjing selama beraktifitas seperti jogging dan mengerjakan tugas sudah tecapai. semoga kita bisa ketemu lagi ya, Pus!

  


Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Didin, para pelayan, dan pelanggan Warkop Barokah. Warkop tempat saya bernaung ketika pulang terlalu larut setelah bergiat di Pusgiwa. Saya rindu obrolan-obrolan di Warkop yang menyatukan para pelanggan dan juga pelayan Warkop meskipun kami tak saling kenal. Terima kasih juga Didin, salah satu pelayan Warkop Barokah, motivator kisah cinta saya yang sudah kandas. Semoga cita-citanya untuk memilki motor dan cabe-cabean segera terealisasi.  
Tumpengan 


Wednesday, January 18, 2017

Free Fancy Camping at Bang Badil's

6-7 Januari 2017

Mengawali tahun baru 2017 ini, saya mengisinya dengan kegiatan berfaedah nan mengasyikan, yakni camping. Lebih tepatnya Free Fancy Camping. woohoooKumbara camping ground, terletak di dalam kawasan Taman Safari, Bogor. Ini pertama kalinya saya dapat tidur dengan sangat nyaman saat camping bersama anggota Mapala. Saat camping di sini, saya dapat tidur dengan leluasa, saya tidak terhimpit kawan setenda (karena satu tenda diisi hanya tiga orang), dan tidak terbangun karena menggigil. Ditambah, makanan yang sangat nikmat dan kami diperbolehkan mengambil porsi sepuasnya. Yang lebih menyenangkan lagi yakni kegiatan camping ini GRATIS heheheh. Hal ini sangat bertolak belakang ketika saya camping bersama anak-anak Mapala; kami tidak dapat leluasa tidur karena satu tenda diisi oleh 4-6 orang dan porsi makan terbatas agar semua anggota kelompok dapat makan juga. 


Kegiatan camping bersama ini merupaan kegiatan yang direncakan oleh para senior Majalah Jejak, majalah yang diproduksi oleh Mapala UI sejak tahun 2006. Selama camping ini, kami membahas mengenai majalah Jejak yang sudah dan yang akan diterbitkan, serta workshop mengenai jurnalistik dan fotografi. 

Kegagahan yang Digerus Usia

Mendengarkan dongeng kisah hidupnya Bang Badil. 
Setelah mengikuti workshop, kami mengisi waktu luang dengan berbincang-bincang bersama Rudi Badil, seorang wartawan senior Kompas yang juga senior kami di Mapala UI. Lansia berambut putih, renta, dan selalu membawa tongkat kayu yang membantunya berjalan ini memiliki gaya bicaranya yang terus terang, tanpa basa basi, lugas, berani. Kehadirannya sebagai narasumber di berbagai talkshow mengenai aktivis '66 bernama Soe Hok Gie mampu menunjukkan betapa berjayanya beliau di masa muda. Malam itu, pria yang akrab disapa Bang Badil ini bercerita mengenai segudang pengalamannya dari zaman ia berkuliah selama 11 tahun di jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI, pengalamannya bergiat di Mapala UI, pengalaman melawaknya bersama Warkop Prambors (yang kini kita kenal sebagai Warkop DKI), mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dansa,  menjadi asisten sutradara,  melanglang buana ke berbagai pelosok Nusantara, ke berbagai belahan dunia, menjadi wakil kampus dalam pertukaran pelajar, menjadi wartawan Kompas, anggota komunitas pencinta hewan, menulis buku-buku, hingga belajar masak di Italia, cerita mengenai pertikaian-pertikaiannya, hingga untold storiesnya. Multitalenta dan sangat bergairah menjalani masa muda , begitu saya mengingatnya. 


Rasa terpuruk pernah ia rasakan semasa hidupnya sejak sebuah mobil menabrak dirinya saat sendang joggingAkibat peristiwa itu, ia tidak dapat berjalan dengan baik dan membutuhan tongkat untuk membantunya berjalan. Sejak peristiwa kecelakaan yang merenggut kakinya dan mengakibatkan dirinya tidak bisa bergiat banyak di alam,  beliau  sering datang ke lokasi yang kini menjadi lokasi kami camping, Taman Safari. Di dekat sungai yang mengalir deras, dekat hutan yang dihuni monyet, beliau menangis, mengadu pada alam. Namun keterpurukannya tidak berlangsung lama, ia segera bangkit, menjalani aktivitas-aktivitas lain antara lain menulis artikel, menulis buku-buku, masuk dalam  berbagai komunitas hewan, mendirikan Taman Safari, membangun camping ground, membangun tempat pengangkaran macan tutul Jawa, penangkaran rusa dan kandang panda. Begitulah cara lain beliau untuk mencintai alam. Tak heran, lansia berdarah Manado yang telah menginjak usia 71 tahun ini, tetap terlihat begitu bugar saat dipersilahkan berbicara, meskipun jasmaninya telah renta.



Menikmati Taman Safari di Tempat yang Belum Dibuka Untuk Umum

Keesokan harinya, kami mengunjungi beberapa kandang hewan yang berlokasi dekat dengan dengan lahan kami camping. Pertama, kami menuju ke kandang panda yang terletak di atas bukit. Setelah 30 menit berjalan kaki, kami tiba di bangunan berasitektur Cina nan megah. Bangunan berlantai tiga ini dilengkapi dengan elevator, eskalator, restoran, ruang yang dapat disewa untuk rapat, serta yang utama adalah beberapa kandang panda yang luas. Sayangnya kandang panda ini belum terisi oleh hewan panda, hanya replikanya saja. Bang Badil berkata bahwa kedatangan panda-panda yang dibelinya dari Negri Cina ke Taman Safari diundur lantaran kedua panda tersebut sedang dijodohkan. Meskipun demikian, kami tetap menikmati pemandangan menawan di sekitar kandang panda serta di dalam bangunan kandang panda. 

Di lantai tiga Kandang Panda



trek menuju Gunung Mas


Puas mengabadikan keindahan alam dan arsitektur bangunan itu, kami melanjutkannya ke tempat pengangkaran rusa dan macan tutul. Entah apa yang rusa-rusa ini pikirkan, ketika mereka melihat kami berjalan bergerombol mendekati kandang, mereka mematung. Setelah menertawakan aksi mereka, kami memasuki bangunan seperti rumah dengan sekat-sekat besi. Bangunan ini merupakan tempat pengangkaran macan tutul. Sebelum masuk, kami harus menginjakan kedua kaki ke air alkohol agar steril. Menelusuri lorong yang dihuni oleh macan-macan tutul dan macan kumbang di kanan dan kiri yang terus mengaum, membuat saya merasa sedang dilatih menjadi gladiator. Selama menelusuri lorong itu, kami mendapat penjelasan dari pemandu kami yang sekaligus pawang hewan-hewan cantik nan mengerikan itu, bahwa hewan yang hanya ditemukan di Pulau Jawa ini sudah menjadi langka. Mereka dapat mengetahui keberadaan manusia dari jarak 100 meter, dan mereka biasanya menghindari bertemu manusia. 

Di atas mobil pick up menuju luar Taman Safari.


Kegiatan berfaedah di awal tahun 2017 ini disponsori oleh:
- Senior-senior Jejak
- Bang Badil
- Akang-akang yang masak masakan super lezat
- Pawang macan tutul 

Tuesday, January 17, 2017

Prau dan Dieng; Surga di Atas Awan

20 September 2016

Menyaksikan lautan awan, matahari terbit, dan matahari terbenam, merupakan kegiatan yang biasa saya lakukan di gunung maupun di dataran tinggi. Begitu juga di Gunung Prau. Namun ada kegiatan lain yang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya di gunung ini, yakni makan siang dan tidur siang di antara cantiknya padang bunga daisy yang bisa saya lakukan di dekat puncak Gunung Prau. 


Selain pesona hamparan luas padang bunga daisy, Prau juga menyuguhkan matahari terbit yang sungguh luar biasa indah. That was my most favorite sunrise in my entire life. Pertama, saya bisa menyaksikan beberapa puncak gunung, diantaranya puncak Sindoro, puncak Sumbing, puncak Merbabu, puncak Mahameru, dan puncak Slamet. Kedua salah satu puncak gunung itu menutupi matahari yang hendak timbul sehingga menghasilkan bayangan seperti  lampu sorot. Ditambah, hamparan luas padang daisy yang terus-menerus memikat hati saya.



Dalam bucketlist saya, gunung  yang terletak di Wonosobo ini menjadi gunung pertama yang ingin saya daki karena termasuk gunung wisata. Julukan “gunung wisata”  bagi Gunung Prau disebabkan karena medan jalurnya yang  tidak berat (santai) dan waktu tempuh dari basecamp ke puncak hanya  memakan waktu 2-4 jam pendakian. Namun takdir berkata lain, Gunung Prau menjadi gunung keenam yang saya daki. 

Berangkat dari Terminal Depok bersama kawan saya bernama Alejandro yang datang dari Bali, kami menaiki bus malam menuju Wonosobo. Setelah 12 jam perjalanan darat, kami tiba di Terminal Wonosobo dan bergabung dengan rombongan Victor.  

Setelah turun gunung, kami berwisata di Wonosobo. Diantaranya Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, dan kawasan Candi Arjuna. Diawal kedatangan saya di tiga tempat ini, saya dikejutkan oleh lautan wisatawan. Berbeda dengan kunjungan pertama saya ke tempat-tempat ini di tahun 2015 yang sepi wisatawan. Bicara mengenai “golden sunrise” di Dataran Tinggi Dieng, jika dilihat dari Bukit Sikunir pemandangan golden sunrise  tidaklah secantik  pemandangan golden sunrise yang disuguhkan dari Gunung Prau.



Wisata alam yang menyuguhkan pemandangan yang sangat menawan, waktu tempuh yang memakan waktu 2-4 jam pendakian, jalur medan yang santai, wisata budaya dan historis, serta harga makanan yang tergolong murah, menjadikan Dataran Tinggi Dieng sebagai salah satu wisata favorit saya.


Menikmati tempe goreng di kawasan Batu Ratapan.
Di kawasan Kawah Sikidang. 


Friday, August 26, 2016

Bali (7 days of oh-by-myself traveling and 2 days with some friends)

24 Juni 2016

Hari itu adalah hari kedua saya mengikuti training pekerjaan di salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. Delapan jam, waktu yang harus saya habiskan bersama laptop dan telepon tiap harinya. Dari dalam ruangan kantor, terdengar polusi suara dari kendaraan-kendaraan bermesin. Dari depan jendela-jendela ruangan kantor di lantai 50 yang dihinggapi polusi kota Jakarta, tampak bangunan-bangunan pencakar langit, kelamnya langit Jakarta, dan kemacetan lalu lintas. Semua tampak kelabu dan saya butuh energi positif. Itu saya dapatkan hanya ketika makanan berupa ayam bakar dibagikan. 

Resign dan mencari pekerjaan di kota lain
Pulau yang saya rindukan sejak tahun 2008 silam, Bali, menjadi kota tujuan saya untuk bekerja selama dua bulan dan berpetualang. Bekerja di sebuah resort sebagai gentille organiseur (G.O) bersama rekan-rekan kerja dari berbagai belahan dunia dan bertemu orang-orang dari penjuru dunia menjadi pengalaman berharga bagi saya. 

Senang sekali kembali melihat awan dengan jarak dekat

Day off 1 di Ubud (28 Juni 2016)
Saya melakukan perjalanan ke tempat yang saya idamkan ini seorang diri. Menaiki kendaraan umum bernama Sarbagita atau Trans Bali, saya menuju Terminal Batu Bulan. Setibanya di sana, sebuah angkot menanti saya dengan sang supir yang terus berteriak-teriak untuk mendapatkan penumpang. Rp 30.000, harga yang harus saya bayar menuju Monkey Forest. Saya duduk di samping dua wisatawan asal Karawang dan berbincang-bincang. Kami bertiga batal menaiki angkot karena memilih menaiki taxi beraplikasi yang harganya lebih murah apabila kami sharing cost. Meskipun sang supir terus menggerutu akibat batalnya kami menaiki kendaraannya, kami terus melangkah mendekati taxi beraplikasi. 

Perjalanan menuju Monkey Forest atau Hutan Monyet kami laksanakan di siang hari. Pemandangan berupa alam yang masih asri, sawah, kebun, bangunan-bangunan khas Bali, kerajinan kesenian khas Bali, dan sejuknya udara di kala itu mampu memanjakan jiwa saya. "Pak, sawahnya kok tidak seasri yang ada di google ya?" tanya saya pada sang supir. Pria Bali yang tinggal di sebuah desa dekat Ubud itu menjelaskan bahwa semakin hari luas sawah semakin berkurang. Selain semakin banyak bangunan penginapan yang dibangun, banyak generasi muda di Ubud yang memilih bekerja di pelayaran atau resort. Mereka tidak mau bekerja di sawah seperti orang tua dan leluhurnya. Maka pekerjaan sebagai petani hanya dilakukan oleh oleh generasi tua saja dan karena tidak adanya penerus, maka mereka menjual sawah kepada pengusaha penginapan. 

he's such an agreeable friend of mine.



Day Off ke-2 di Uluwatu dan Garuda Wisnu Kencana

Pukul delapan pagi, saya memasuki restoran resort untuk mengambil makanan-makanan yang bisa saya bawa di dalam tas sebagai bekal perjalanan. Hal penting ini yang saya lakukan untuk penghematan. Hehehe. Bertegur sapa dengan para pekerja lain dan mendapat ucapan "enjoy your day off" menjadi kesenangan tersendiri bagi saya untuk memulai perjalanan. 

Penantian Bus Sarbagita yang dikenal sebagai Trans Bali membuahkan hasil. Bus yang sepi ini datang cepat. Saya turun di Halte Kantor Lurah Tanjung Benoa untuk berpindah ke minibus Sarbagita yang nantinya akan langsung mengantar saya hingga pintu masuk Pura Uluwatu. Sang supir berkata bahwa saya harus menunggu pukul 12 siang sesuai jadwal keberangkatan. Pukul 12 siang, waktu yang harus saya nanti satu jam kemudian. 

Sebuah gubuk yang terletak di pojok halaman dekat minibus Sarbagita terparkir, diramaikan oleh kehadiran ibu-ibu yang berusia lebih dari setengah abad. Senyuman dan sapaan manis mereka menarik perhatian saya untuk mendekat. Setengah jam lewat saya berbincang-bincang dengan para wanita Bali nan cantik yang sedang membuat kerajinan dan sesajen untuk acara keluarga. Setengah jam kemudian, saya habiskan dengan berbincang-bincang dengan para supir minibus yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Pariwisata Bali yang terus semakin maju ternyata menarik para penduduk pulau sekitar Bali untuk mencari lowongan pekerjaan. 

Setibanya di kawasan Pura Uluwatu, saya merasa seperti berada di Eropa bagian selatan. Pemandangan yang sedang saya lihat saat itu seperti lukisan-lukisan favorit saya yang menggambarkan nuansa tepi Laut Mediterania. Setelah merasa cukup puas berkeliling kawasan ini dua kali, saya duduk di sebuah pondok selama beberapa jam menikmati pemandangan sambil menyantap cemilan yang saya bawa. Menikmati cahaya matahari yang terus terpancar, menatap birunya laut selatan Indonesia yang sedikit tertutup bunga-bunga bugenvil berwarna merah muda dan oranye, mendengar suara riuh ombak yang membentur tebing, dan merasakan semilir angin. Saya menikmati ini semua. 


Pukul tiga sore saya bergegas menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) untuk menonton Tari Kecak yang harga tiketnya lebih murah dibandingkan harga tiket tari kecak di kawasan Pura Uluwatu. Satu jam menunggu minibus Sarbagita melaju dari Uluwatu. Penumpang hanya saya seorang. Perut berbunyi tanda minta diberi asupan makanan. Tiba di depan tulisan besar Garuda Wisnu Kencana saya segera mencari makanan khas Bali. Saya bertanya pada beberapa penduduk lokal yang menjawab "tidak tahu". Lalu saya telusuri jalanan menuju suatu desa. Sebuah bangunan tempat pembuatan kerajinan kayu yang berisi beberapa pekerja menjadi sasaran pertanyaan saya. Beruntung, seorang pengerajin kayu mengantar saya dengan sepeda motornya menuju warung murah yang menjual makanan khas Bali tanpa mengharapkan imbalan. 

Seporsi makanan berisi daging babi, daging ayam, urap, dan sambal kering saya santap dengan cepat. Rp 12.000 harga per posinya. Nikmat dan murah. Lalu saya bergegas menunggu angkot menuju depan Garuda Wisnu Kencana (GWK)Satu jam menunggu angkot yang dinanti-nanti. Saya masuk ke dalam angkot yang sedang dikendarai oleh supir angkot yang mengantar saya berangkat ke Uluwatu tadi. Hahaha. Sekitar 10 menit saya tiba kembali di depan GWK dengan diberi tumpangan gratis oleh sang supir ini. Asyik. 

2 Km, jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari depan GWK hingga ke pintu masuk. Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada serorang bapak paruh baya yang sedang duduk di atas motornya. "Pintu masuk GWK masih jauh kah, Pak?". Bapak itu heran melihat saya berjalan kaki seorang diri menuju GWK. Ia pun mengantar saya hingga mendekati pintu masuk. Ucapan terima kasih banyak tidak lupa saya ucapkan pada beliau.

Sesampainya di pintu masuk GWK, saya bertanya lagi pada satpam-satpam yang sedang berkumpul "Permisi, bapak. Tiket masuknya beli dimana ya?".  Bapak-bapak itu heran dan bertanya mengapa saya berjalan kaki sendiri saja, mengapa baru datang di sore hari. Kami berbincang-bincang dan para satpam itu mengkasihani saya sehingga mereka memberi saya akses masuk GWK gratis. Hahaha. Terima kasih Tuhan.





Day Off  ke-3 di Tiga Pantai (12 Juni 2016)
Bersama rekan kerja satu departemen bernama Yolanda, saya siap menelusuri pantai-pantai di selatan Pulau Bali. Meskipun kami tersesat berkali-kali, namun akhirnya kami bisa menikmati ketiga pantai ini; Pantai Balangan, Pantai Padang-padang, dan Pantai Uluwatu. 






Day Off ke-4 ke Tanah Lot, Pura Taman Ayun, dan Tempat Pembuatan Kopi (19 Juli 2016).
Hari itu saya mengikut excursion (wisata) yang disuguhkan resort tempat saya bekerja. Jalan-jalan gratis bersama rombongan warga negara Prancis yang sibuk bercumbu selama perjalanan. Saya duduk di antara Alize dan jendela mobil, sambil mendengarkan apa yang Pak Made sebagai pemandu wisata jelaskan mengenai Bali, budayanya dan warganya. 






Day off ke-6 di Desa Bangli, Desa Panglipuran, Pura Kehen, Tirta Sudamala
Rencana saya berlibur hari itu yakni mengikuti acara adat Bali di rumah salah seorang kawan di Desa Bangli. Menunggu kabar yang tak kunjung datang, saya merencanakan snorkling di Tanjung Benoa terlebih dahulu. Perjalanan saya lakukan dengan berjalan kaki dan naik ojeg menuju lokasi. Suasana di sana terlalu riuh dan gaduh. "Ombaknya besar sekarang, akan kurang nyaman jika snorkling", jelas seorang penjual tiket snorkling. Oleh karena itu saya mengurungkan niat saya lalu kembali ke terminal bus Sarbagita untuk menuju Batu Bulan. Huft. 

Dari Batu Bulan, saya menaiki angkot menuju Pasar Galinyar.  4 jam perjalanan menikmati suasana pedesaan Bali, hal yang saya sukai. Suasana asri, penduduk ramah, makanan khas yang murah, rimbunnya pepohonan, dan tiada sampah berserakan. 

Hujan besar yang mengguyur daerah ini beberapa jam membuat saya tidak bisa kembali ke Nusa Dua. Unpaid day saya minta dari manager. Saya beristirahat dan menginap di rumah penduduk desa, Ibu Tirah, istri pensiunan yang menyambung nasib dengan berjualan bunga. 

Suara ayam berkokok di pagi hari dan sayup-sayup suara perbincangan transaksi antara pedangang dan pembeli terdengar dari ruang tamu, tempat saya tidur. Saya mempersiapkan diri untuk perjalanan ini dengan ke pasar mencari sarapan lalu mandi. Dua jam perjalanan menuju Desa Panglipuran menggunakan ojek dan angkot.

Desa Panglipuran, desa yang dikabarkan masuk ke dalam daftar tiga desa terbaik dunia ini terletak di Kabupaten Bangli. Sejak memasuki gerbang berupa pure, nuansa pedesaan Bali terasa kental di sini. Bangunan-bangunan khas Bali berjejer rapi. Aneka ragam bunga terhias cantik di sepanjang jalan dan di dalam pekarangan-pekarangan rumah penduduk. Anjing-anjing menyapa saya dengan ramahnya. Begitu juga para penduduk yang saya temui, selalu memberi senyuman dan sapaan pada wisatawan. Suasana dan pemandangan ini sebetulnya juga saya temui di desa-desa lain di Bali. Namun hal yang membuat desa ini istimewa yakni adanya rumah-rumah penduduk Bali yang berusia ratusan tahun. Rumah-rumah itu berukuran kurang lebih 5m x 2m, beratap jerami, berdinding bambu, beralaskan tanah, masih terawat apik dan masih digunakan penduduk sebagai dapur dan kamar tidur. Selain itu, kecantikan desa ini semakin terlihat tanpa kehadiran sampah yang berserakan, orang yang sedang merokok, dan kendaraan bermesin yang berlalu lalang. Jadi pantas saja bila desa ini dijadikan contoh desa wisata pertama di Indonesia di tahun 1995 dan masuk dalam daftar tiga desa terbaik di dunia. 


Sesajen yang akan dibawa ke pura desa.

di pekarangan rumah warga

Di ujung desa terdapat kebun  bambu. Untuk menebang pohon bambu di sini harus seizin kepala adat 





Mampir sejenak di Pura Kehen.

Puas menikmati Desa Panglipuran, saya bergegas menuju Tirta Sudamala menumpang kendaraan warga lokal hingga pasar , lalu menaiki ojek. Melewati pure megah nan elok, saya mampir sejenak beberapa menit. Perjalanan saya lanjutkan. Mata terus dimanjakan oleh persawahan dan hutan yang asri. Roda kendaraan kembali terhenti di area parkir Tirta Sudamala, saya bersama rombongan keluarga yang hendak sembahyang, bersama-sama berjalan kaki menuruni bukit dan anak-anak tangga sejauh 300m.

Tirta Sudamala berada di bawah bukit, di tepi Sungai Sangsang yang diapit rimbunnya pepohonan. Sebelas pancuran yang berasal dari mata air yang tidak pernah kering meskipun saat musim kemarau ini biasa digunakan masyarakat Bali untuk mandi penyucian diri. Di dekat pancuran, terdapat juga pure yang siap didatangi warga Bali untuk sembahyang setelah mereka mandi di sungai maupun mandi dari pancuran mata air. Ah, ingin rasanya saya turut berendam. Namun saya tidak membawa baju ganti. 





Hari semakin gelap, tanda saya harus pulang karena angkot hanya beroperasi hingga pukul 16.00 WITA. Inilah kesulitan yang saya hadapi dalam perjalanan, saya tidak bisa mengemudikan motor maupun mobil dan telepon genggam saya sering eror. Oleh sebab itu saya mengandalkan kendaraan umum, tumpangan warga lokal, atau teman perjalanan yang bisa mengemudikan kendaraan. Heheh. 



Setibanya di resort, kabar saya hilang tersiar di HRD. Teman-teman saya mengira saya hilang dan melaporkannya ke HRD karena saya tidak bisa dihubungi. Sungguh saya bingung. 



Day Off ke-7 di Kuta. 
Rencana melancong bersama Ale gagal karena jadwal day off kami yang berbeda. "Saya harus pergi saat hari libur kerja. Entah kemanapun." Kalimat itu selalu muncul di benak saya. Pertemuan saya dengan seorang rekan kerja bernama Rachel di depan ruang kantor Ale menghasilkan rencana. Saya menemaninya berbelanja di sebuah mall di Kuta. Rachel, seorang gadis asal Mauritius yang memiliki hobi mendorong dan memukul kawan. 



Berbekal kamera pinjaman dari Alejandro, saya menuju Pantai Kuta seorang diri. Menaiki taksi, berjalan kaki, menaiki angkot, lalu berjalan kaki lagi. Terlalu ramai. Terlalu riuh. Terlalu gaduh. Berjalan di tepi pantai sambil merasakan dinginnya air laut yang menyentuh jemari kaki, sambil mengabadikan suasana. Di ujung sana, matahari seakan tenggelam ke lautan dan tertutup kelabunya awan. Saya sedikit kecewa. Ditambah kesepian di tengah keramaian. 




Day off  ke-8 di Pulau Nusa Penida
Seperti biasa, saya harus persiapkan hari libur dengan baik. Alejandro, orang gila asal Spanyol yang sering menggonggong ini mengajak saya untuk mendapatkan hari libur yang sama agar kami bisa melancong bersama. Jumat, 19 Agustus 2016, saya, Alejandro dan dua rekan kerja kami asal Taiwan bernama Candice dan Olivia memulai perjalanan dari tempat kami  bekerja di Nusa Dua menuju Pantai Sanur pada pukul 6.30 pagi. 


Gorengan seharga Rp 5.000 per porsi dan tiket kapal Caspla seharga Rp 75.000 per orang sudah kami genggam. Kapal yang hendak kami tumpangi sudah berlabuh. Kami siap mengarungi Selat Badung. Satu jam perjalanan ini terasa seperti menonton telenovela dan drama Asia. Bangku depan saya diduduki segerombolan wisatawan asal Spanyol yang terus berbincang-bincang dalam bahasa Spanyol tanpa henti. Bangku belakang saya diduduki oleh Olivia dan Candice yang terus berbincang-bincang dalam bahasa Cina. Pencarian dan  Pokeman di laut menjadi salah satu topik yang membuat kami kembali berbahasa Inggris.

Mobil sewaan kami dan sang supir siap mengantar kami menuju tiga tempat wisata yang saya dan Ale telah rencanakan. Tamelieng Natural Pool, Broken beach, dan Pantai Bilabong.  Destinasi pertama kami adalah Tameling, kolam alami sedalam 20 meter. Untuk menuju lokasi, kami turun dari mobil di lokasi tiket masuk dan melanjutkan perjalanan dengan menaiki motor sewaan. Melewati asrinya hutan, cantiknya bukit kapur, sebelah kanan jurang, serta jalan yang licin. Motor yang saya naiki bersama Ale dengan kecepatan tinggi terpeleset beberapa kali dan hampir terjatuh. Itu sebabnya saya pukul ia berkali-kali.
  

Perjalanan kami lanjutan dengan treking sejauh 1,6 km menuju kolam untuk laki-laki sedalam 20 meter. Sayang sekali kolam ini hanya diperbolehkan untuk laki-laki. 10 menit perjalanan menuju kolam khusus perempuan. Kecil dan dangkal. Namun pemandangan berupa pantai dapat kami nikmati sambil berendam. Percayalah, sepinya pengunjung membuat lokasi ini semakin nyaman untuk dikunjungi. 





Destinasi kedua kami adalah Broken beach atau Pantai Pasih Uug. Satu jam waktu yang kami tempuh dari Tameling. Puas berfoto dengan latar berupa tebing yang seakan patah, dihiasi deburan air serta barisan bukit hijau, kami melanjutkan perjalanan kurang lebih 10 menit menuju Pantai Billabong dengan berjalan kaki. Billabong, nama tempat ini yang memiliki arti ujung dari sebuah sungai yang buntu. Dari atas tebing tampak sinar matahari yang menerpa dasar sungai yang memperlihatkan cantiknya perpaduan warna hijau dan biru. Menuruni tebing bebatuan koral, lalu merasakan dinginnya perpaduan air sungai dan laut. Perih saya rasakan di sekujur kaki karena adanya luka-luka di kaki dan darah yang mengalir. Biarlah, toh saya tetap menikmati dan terpukau dengan apa yang Tuhan sajikan pada saya di hari itu. 



Teriakan Olivia dan Candice dari atas tebing memperingati saya dan Ale bahwa jam sudah menunujukkan pukul 14.00 WITA. Tanda bahwa kami harus bergegas menuju Pelabuhan Padang. Perjalanan dengan menancap gas di jalanan yang tidak mulus kami lalui sambil mencoba tidur. Antrian panjang menuju kapal kami saksikan di sekitar pelabuhan, tanda bahwa kapal akan segera melaju. Kami tiba tepat waktu. 



Kembali ke Nusa Dua. Acara perpisahan saya dan Emil terlaksana pukul 24.00 WITA yang dihadiri teman-teman. 

Kini raga saya telah tiba di Jakarta, kembali harus menjalani rutinitas di kampus. Meskipun jiwa saya masih ingin menetap di Bali dan mengunjungi beberapa objek wisata, terutama Gunung Agung dan Gunung Batur yang gagal terlaksana.

Terima kasih kepada:
- rekan-rekan kerja dari berbagai departemen 
- Miniclub team dan Pokemon Bakar team; Syntia, Givale, Bimo, Sky, Vanny, Clara, Rey, Emil, Kak Semi, Shiho, Juliette, dll
- Alejandro, teman yang sering meminjamkan kamera dan menyukseskan rencana perjalanan ke Nusa Penida. Meskipun projek matahari terbit, dan rencana naik gunung gagal terlaksana. but that's okay lah, Ndro. 
- anak-anak kesayangan: Yoni, Tess, Elouise, Grace, Victoria, Adam, Tais, Manon, Saliha, Robin, Diego, Mateo, Ola, Lilas, Theo, Sam, dll
-Ibu Tirah sekeluarga yang mau memberi saya tumpangan beristirahat saat saya terjebak hujan di Desa Bangli
- para tamu kesayangan: Nancy, Michelle, Kevin, Patrick.
- semua orang baik yang saya temui di pulau ini, yang mau memberi saya tempat beristirahat sejenak, mengantar saya tanpa mau dibayar,  yang memberi saya akses masuk gratis ke beberapa tempat
- para supir angkot yang selalu berkata "hati-hati ya nak, jaga diri" ketika mengetahui saya melancong seorang diri :')


video

              Perjalanan kami ke Pulau Nusa Dua. Courtesy of Alejandro Albarreal Troya.