Tuesday, July 4, 2017

"villa butuh hutan, tapi hutan gak butuh villa".

10 Mei 2017

Selama ini warga Jakarta yang penat akan hiruk pikuk kota dan polusi berbondong-bondong ke kawasan Puncak, Bogor untuk menikmati udara segar serta menyewa villa di sana.  Lalu apa sih yang menyebabkan daerah Puncak bisa menarik minat para pengunjung?  Pemandangan alam dan hawa dingin dataran tingginya kan yang gak bisa mereka dapatkan di kota Jakarta. Nah, sayangnya pemandangan alam dataran tinggi berupa hamparan hutan itu mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Penyebabnya karena semakin banyak pengunjung,  maka semakin banyak pula hutan yang dialihfungsikan sebagai lokasi pembangunan villa. 



Kegiatan Kelas Hutan yang diselenggarakan oleh Forest Watch Indonesia mengajak para mahasiswa dan orang umum untuk lebih memahami kondisi hutan-hutan di kawasan Puncak, Bogor serta mengenal masyarakat lokal lebih dekat. 

Kampung Cibulao

Berlokasi di kaki Gunung Pangrango dan Gunung Salak, Kampung Cibulao menjadi lokasi kami menginap dan berdiskusi dengan warga lokal. Kampung ini berbatasan langsung dengan hamparan kebun teh dan hutan-hutan di kawasan Puncak yang masih terbilang asri. Namun jika hutan sekitar disusuri hingga di ketinggian 1.600-an mdpl, terdapat beberapa area kritis akibat longsor dan lahan hutan yang dibabat habis lalu dialihfungsikan sebagai kebun sayur. 

Padahal selain fungsinya sebagai lahan resapan air hujan, hutan-hutan di sekitar desa tersebut merupakan habitat berbagai burung dan tanaman endemik Pulau Jawa. Meskipun mayoritas warga Kampung Cibulao sudah sadar akan pentingnya menjaga ekosistem hutan dengan tidak melakukan penebangan liar maupun perburuan liar, namun masih ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang terus mengusik keseimbangan ekosistem di daerah ini. 


Hutan Atas, begitu warga lokal memanggilnya. 
Kebun sayur di ketinggian 1600 mdpl.
Pemandangan kebun teh dari kebun kopi milik warga.
Warga kampung Cibulao sudah banyak yang sadara betapa pentingnya merawat hutan dengan tidak menjadi penebang liar, tidak memburu hewan di hutan, melakukan kegiatan patroli hutan tanpa dibayar, menanam bibit pohon di area hutan yang sudah gundul dan bekas longsor. Namun usaha tersebut belum mendapat dukungan dari warga desa dan kampung lainnya. Terbukti dari adanya beberapa area di hutan yang dibabat habis lalu dijadikan kebun sayur oleh warga dari desa dan kampung lain. Ditambah  kurangnya usaha dari pemerintah melestarikan hutan di kawasan ini dengan terus memberikan izin pembangunan villa dan tempat wisata di kawasan Puncak, Bogor.  Warga pun meminta kami para peserta yang ikut dalam Kelas Hutan untuk membantu mereka dalam pelestarian hutan Puncak dengan berbagai cara. Diantaranya melalui media sosial yang memviralkan kondisi hutan Puncak yang semakin terdegradasi. 




No comments: